Rabu, 06 Februari 2013

Emas di negeri orang - batu dinegeri sendiri (Lika-liku di Logam Mulia)

Awalnya dari batu, kemudian menjadi bullion (Au,Ag,Pt) lalu jadilah emas murni.....

Indonesia tuh kaya bung, tapi sayangnya kenapa negara ini miskin ya??
Kaya karena hasil bumi di Indonesia buanyak banget, salah satu contohnya saja adalah emas, bahasa kerennya sih Aurum (Au) tapi sayangnya hanya sedikit perusahaan emas itu milik lokal, hanya satu badan negara yang bergerak dalam tambang emas selebihnya perusahaan asing sing sing..
Salah satu tempat peleburan emas itu ada di Logam Mulia (LM) Antam. Kenapa harus dilebur di LM?karena hanya badan yang mempunyai otoritas saja yang dapat mengeluarkan sertifikat emas sehingga emas itu sah untuk diperjual belikan baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Seumur-umur, saya belum pernah liat emas batangan secara langsung hanya pernah liat emas batangan di film-film, sampai akhirnya pergi ke LM dan berhasil melihat emas batangan itu seperti apa (terasa seperti orang kaya klo pegang emas batangan, hihihi).



Emas Batangan
Emas Dengan Berbagai Ukuran Berat




















Aneh memang klo dipikir-pikir, emas hasil olahan malah lebih banyak dikirim ke luar negeri dan negeri sendiri hanya dapat batu hasil olahannya saja, sepeeet banget.
Entah mengapa negara luar lebih diutamakan daripada negara sendiri, apa karena mereka yang mempunyai perusahaan tambang-tambang emas, da gitu orang asing (bule) kenapa seperti raja di Indonesia, apa karena kulit mereka lebih terang daripada kulit orang Indonesia?
Saat saya harus tugas di LM tuk mengawasi peleburan emas (emas nya punya perusahaan asing) maka satu orang bule harus ikut mengawasi juga, katanya bos lokal sih tuk marketing n lebih dipercaya klo bule yang tanda tangan (diskriminasi pertama). Nantinya tuh bule cuma ngawasin kerjaan gw aj (ga usah pke bahasa baku tuk saat ini, lgi gondokk), ngawasinnya bukan selagi gw kerja tapi entar saat semua kerjaan sudah beres alias cuma ngecek data2 yang sudah lengkap trus cuma tanda tangan doank, that's it, gampang banget kan kerjaannya tuh bule. Yang bikin gondoknya lagi tuh bule enak-enakan aja tidur dan bisa2 nya aja lagi tidur, coba deh klo orang lokal or gw yang tidur pasti kena semprot (diskriminasi kedua). Trus klo ada masalah, ex: berat timbangan barang (bullion) yg beda jauh, cuma bisanya nelpon bos lokal di kantor tanpa bisa ambil keputusan ditempat secara langsung da gtu tuh bule ngomong ke gw dan gw harus menterjemahkan susah2 dulu deh, lebih baik mah gw aj yg nelpon bos lokal ga perlu cape2 terjemahin bahasa tuh tarzan putih, knp harus pke bhsa asing sih, kan tuh bule kerja di sini, ya pke bahasa Indonesia donk (diskrimunasi ketiga). Ni buktinya klo tuh bule ga tw apa2 soal kerjaan cuma hah hoh donnnkk..

 Ada satu kejadian yg tuh bule ngaduin kelakuan gw ke bos lokal yg menurut dy kurang sopan tpi menurut gw sendiri sopan2 aj. Ngakunya sih boz tpi ap bgtu kelakuan boz yg ga berani ngomong didepan beraninya ngadu di belakang, aseeem lahh, mang takut ma kulit gw yg lebih keren daripada kulit tuh bule?
Alhasil menurut gw sih ga semua tuh bule lebih berkualitas daripada orang lokal yaitu orang Indonesia sendiri, buktinya gw sudah mengalaminya sendiri. Terkadang (bisa dibilang sering kali) orang2 Indonesia sendiri yg menjadikan bule tuh seperti raja, padahal bule dan kita tuh sama2 manusia, sama2 sederajat sehingga bule2 jdi keenakan dianggap seperti raja.

Bule bagaikan emas (bernilai tinggi), orang Indonesia bagaikan batu (bernilai rendah), ayoo guys kita ubah hal ini...!!!






Rabu, 31 Oktober 2012

Pulau Kayuangin Bira dan Pulau Perak

26/10/12 up to 28/10/12. Lagi-lagi trip pertama saya ke suatu tempat n guyss, saya baru pertama kali loh ke kepulauan seribu. :-)



Muara Angke


Pagi-pagi harus tiba di Muara Angke karena kapal penyebrangan berangkat pagi dan woww ternyata banyak sekali para traveller yang ingin ke kepulauan seribu, saya sempat tak habis pikir "kemana aja ya saya, masa baru pertama kali ke kepualauan seribu sedangkan sudah banyak orang yang akan ke sana (itu berarti kep.1000 sudah populer) dan teman2 di rombongan trip saya sudah lebih satu kali pergi ke kep.1000, hehe".



Kelebihan Muatan



Penumpang kapal banyak sedangkan kapal yang tersedia sedikit, alhasil para penumpang bertumpuk-tumpukan tuk bisa ke kep.1000, widiiihh sepertinya safety kapal terlupakan bahwa pastinya setiap kapal punya jumlah maximum penumpang yang bisa di angkut tapi karena antusias para penumpan dan tentunya keuntungan pemilik kapal ya "lupakan" sajalah..(klo bisa sih jangan di tiru ya guyss).
Berangkat dari Muara Angke pukul 7.30 WIB, perjalanan berkisar 3 jam sampai ke Pulau Harapan dan dari sana saya dan teman-teman akan melanjutkan dengan kapal yang berbeda. Selama di kapal, saya duduk di dek atas bagian kapal paling belakang maklum lah mau melepas kangen pada laut dan nikmatin suasana perjalanan, terakhir kali saya melakukan perjalanan laut satu bulan yang lalu. Di tengah perjalanan saya melihat ABK (anak buah kapal) mengambil air laut,, hmmm saya sih sudah bisa mengira pasti buat isi ember di toilet kapal dan betul saja saat saya buang air kecil, air di ember terasa lengket di tangan dan untungnya saya cowo jadi ga perlu air saat buang air kecil tapi klo cewe pasti lengket tuh jadinya, hehe, alternatifnya sih bawa tisue basah (klo semua penumpang pakai tisuee basah tambah kotor aja tuh laut jakarta).


pulau Harapan




Untunglah laut bersahabat saat kami pergi dan akhirnya sampai di pulau persinggahan, pulau Harapan. Banyak pengunjung juga yang nginap di sini tapi tidak buat saya dan teman-teman, karena kami ingin pulau yang sepi.
Cari makan dulu nih dan kami mencari pak Udin (bukan buat di makan, ;-0 ) karena teman saya pernah kesana dan singgah di rumah makan pak Udin. Ternyata rumah makan pak Udin sudah pindah padahal kami sudah jalan jauh sepanjang ganngg loh (lebe mood on karena sudah kelaperan, hehe) dan akirnya kami mengutus teman tuk mencari rumah makan pak Udin. Nah sambil menunggu, kami berpose dulu (tetap ya klo namanya dipoto tuh senyam senyum meskipun perut sudah keroncongan) dan seperti nama pulau itu yaitu pulau Harapan, kami pun berharap rumah makan pak Udin ketemu dan ada seorang ibu di sebelah kanan itu pun berharap muka nya bisa ke poto (just kidding Madam, hehehe).




Pulau Kayuangin Bira

Yiipiie, akhirnya kami sampai juga di pulau Kayuangin Bira, pantai cantik berpasir putih yang panjang, dengan hanya luas 0.26 HA bisa mengelilingi pulau hanya dengan 15 menit saja dan tentu saja pulau ini tak ada penghuninya karena diperuntukan untuk penghijauan.
Saat kami baru sampai di pulau itu, tak berapa lama ada perahu lagi yang datang membawa rombongan,dari jauh kulit mereka seperti orang Indonesia, tidak terlalu hitam dan tidak terlalu putih juga tapi saat mereka berbicara bukan menggunakan bahasa Indonesia, lalu saya penasaran sehingga saya mendekat tuk mendengar logat mereka dan ternyata mereka orang India guyss terdengar kata "nehi, nehi" saat mereka ngobrol, terlihat jelas juga tampang mereka yang sering saya lihat di  film-film bollywood, film yang saya gemari saat SMP sampai SMA sehingga saya fasih dengan tampang-tampang seperti mereka dan diperjelas lagi dengan bulu dada yang subur sekali. Sayangnya mereka hanya snorkling beberapa saat lalu pergi dan tidak menginap di pulau Kayuangin Bira bersama kami, kalau saja menginap bisa-bisa menyanyi dan menari lagu India bersama mereka,hehe.
Kami pun mendirikan tenda di pulau itu karena memang tidak ada penginapan di sana, dua tenda untuk sekumpulan pria dan satu tenda khusus tuk wanita yang tercantik saat itu (jelas aja yang tercantik karena satu-satunya wanita yang ikut, hehe). Sehabis mendirikan tenda, kami langsung nyebur ke laut, 3 teman yang menyatakan sebagai A3Idiot memang berencana untuk freediving dan saya hanya snorkling tanpa kaki katak. Maunya sih ikut freediving karena pastinya akan terasa lebih seru tapi berhubung saya belum pernah latihan seperti itu ya snorkling aja deh (next time I will do what u do boys..!!). Saat snorkling ada bulu babi dan itu banyak sekali, tiba-tiba pun saya jadi panik karena hanya bermodal googles dan celana saja tanpa baju dan tanpa kaki katak. Duri bulu babi nya panjang-panjang sehingga saat saya berenang tepat diatasnya langsung saja mengambil haluan ke kanan or ke kiri dan wew akhirnya jempol kaki saya terkena bulu babi juga karena memang sudah panik duluan padahal si bulu babi hanya diam di dasar. Oh men, rasanya tertusuk bulu babi tuh sama aja ditusuk jarum suntik dan 5 menit pertama rasa sakitnya belum hilang-hilang tapi setelah 5 menit tidak terlalu sakit lagi meskipun duri bulu babinya masih ada yang tertinggal di jempol saya. Hmmm baru saja nyebur kira-kira 15 menit tapi bulu babi sudah membuyarkan kesenangan saat itu, alhasil saya tak melanjutkan snorkling lagi dan berusaha untuk menyabut bulu babi yang masih tertinggal di jempol, ehhh bukanya tercabut malah makin dalem masuknya, huft.. Kata teman saya sih harus di kencingin or di kasih air cuka, hmm saya lebih memilih opsi kedua deh meskipun harus menunggu teman yang datang membawa air cuka (oh ya ada 2 orang teman kami yang ketinggalan perahu, so mereka nyusul) daripada memilih opsi yang pertama harus mengencingi diri sendiri dan saat itu air kencing sudah habis, belum terisi lagi, hehehe.




Sunset di Pulau Kayuangin Bira



Memang sore hari itu agak mendung dan awan hitam menutupi keindahan matahari terbenam tapi rasa haus melihat sunset di pantai terbayar sudah setelah satu bulan tak melihat sunset di pantai. Sebagian teman hanya duduk-duduk, sebagian lagi bergaya 1 2 3 tuk di poto dan saya hanya berbaring merasakan angin sepoi-sepoi sambil berharap sunset tak cepat berlalu.
Dinner time..!!maklum karena kami camping maka peralatan masak dan makan pun harus di bawa dari rumah dan karena hanya satu wanita yang ikut, si Niken, alhasil dialah yang dapat jatah memasak dengan sedikit paksaan dari para lelaki, hehe. Katanya dia ga bisa memasak nasi cuman bisa masak sarden, cornet, mie tapi tetap saja kami para lelaki menyuruhnya masak nasi karena memang dia satu-satunya wanita saat itu (kejamnya dunia, hehe). Betul aja dia ga bisa masak nasi, ternyata nasinya ga mateng-mateng dan setelah dapet bantuan dari yang lain akhirnya mateng juga tuh nasi tapi bagian bawahnya rada gosong, Niken sepertinya kau harus belajar lagi memasak nasi biar mateng n nanti juga pasti bisa ko.
Bingung mau ngapain, kami bermain kartu (permainan cangkul) nah ada hukumannya, yang kalah jongkok loh dan baru saat itu saya bermain cangkul dengan jumlah tujuh orang. Ya ya ya namanya juga cangkul, siapa yang lagi cangkul pasti di bilang "cangkul, cangkul, cangkul yang dalam", malam yang lucu bersama teman-teman tertawa geli saat ada yang cangkul apalagi kalah dan harus menjalani hukumannya..Uppss ada hukuman yang lain juga loh, si Abe karena kalah harus masak air panas dan bikin teh, yang lebih ekstrim lagi klo yang kalah jalan keiling pulau lalu kenalan sama tetangga sebelah yang sedang camping juga tapi hanya menggunakan sarung, tapi sayangnya ga terjadi, hehee.
Tenda ada tiga tapi malam itu kami tidur di luar tenda, yahh mau asik-asiknya tidur tiba-tiba hujan turun dan kitapun keblingsetan masukin barang-barang ke dalam tenda dan berlindung di sana. Tenda yang saya masukin isinya lima orang beserta barang-barang, dempet-dempetan deh. Si, Agus yang paling rela berkorban, duduk sambil megangin bagian depan tenda biar ga terbang n ga masuk air (top markotop lu gus..). Ujannya dua kali malam itu dan dua kali pula kami bolak-balik keluar masuk tenda tuk bisa tidur.



tiga tenda

Nescafe Addict













Pagi hari masih rada mendung sehabis hujan malam itu, udaranya nya juga lebih dingin tapi kami siap-siap nyebur ke laut dong, apalagi klo bukan freediving n snorkling. Kali ini saya memberanikan diri tuk ikut bersama 3 freediver (Agus, Abe, Acionk) tuk melihat mereka freediving dan untuk ambil poto bersama produk Nescafe *promosi (salah satu syarat tuk ikut Nescafe Journey bareng Riani Djangkaru). Bersama si boy (ban pelampung) saya berpegangan, hmm arusnya kencang saat itu sehingga saya dan Agus harus bersusah-susah berenang ke tengah mendorong si boy. Wow melihat mereka freediving jadi iri rasanya karena saya hanya bisa melihat dari permukaan air saja tanpa bisa ikut-ikutan menyelam dan melihat ikan, karang lebih dekat lagi dan sayapun hanya menjadi penjaga boy agar tidak terbawa arus (boyer, yeeahh).
Begitu selesai nyebur, kami sudah ditunggu oleh bang Gres dan bang Edo untuk diantar ke Pulau Perak, hanya sekitar 15 menit dari pulau Kayuangin Bira. Nah di pulau Perak ini kami main ujan-ujanan (saya aja lupa kapan terakhir saya main hujan) wow rasanya nikmat betul, sambil berlari-larian di pantai, merasakan tiap tetes ujan yang mengenai tubuh, melihat gelapnya awan sambil tentunya tetap narcis dan si Acionk membuat video saat itu.
Di pulau Perak ini kamar mandinya dari air sumur sehingga harus nimba air dlu klo mau mandi dan untuk  buang air besar pun seadanya, lubang yang agak besar tapi pinggirannya sudah disemen (saat itu sudah lebih bagus saat Niken dkk datang pertama kali, hanya lubang dengan penyangga papan tuk jongkok). Karena sudah ga tahan BAB ya mau ga mau nongkrong di situ, rasanya aneh sebelum BAB tapi setelah keluar wuihh segerr betul, hehehe.
Malam harinya peminat permainan kartu berkurang karena memang kami kelelahan seharian berenang dan main hujan-hujanan walaupun begitu saya baru tahu ada permainan kartu tangkap setan dan 41 (yang katanya identik dengan seberapa komitmenya seseorang bersama or mencari pasangan). Oh iya hampir lupa kami bakar-bakar tedong or kempa (sejenis keong yang bentuknya menyerupai karang dan cangkangnya berjari, dan cangkangnya itu keras sekali harus di pecahkan dengan palu) sebelum tidur, rasanya seperti cumi tapi lebih kenyal. Seperti malam kemarin, teman-teman tidur di luar tenda tapi belajar dari malam sebelumnya, saya memutuskan tidur di tenda aja agar tidak perlu repot-repot klo hujan dan tidak perlu mendengar salah satu teman yang mendengkur, hehe.


Sun Rise di Pulau Perak



Matahari terbenam malu-malu, terbit pun malu-malu, ohh kenapa harus malu-malu menampakkan keindahanmu..!!
Usaha bangun pagi tuk melihat indahnya matahari tidak kesampain deh, memang ga semua harapan terwujud saat jalan-jalan tapi yang pasti sih saya mencoba nikmatin aj dan hal itu lebih berguna daripada mengeluh..
Oh iya, ubur-ubur kecil berkerumunan di pinggir pantai pagi itu, saya jadi ingat kemarin ketika nyebur ke laut teman-teman tersengat ubur-ubur, katanya rasanya perih dan kulit jadi bentol-bentol, untungnya saya tidak tersengat ubur-ubur tapi malah nginjek bulu babi, hihi.
Para 3 freediver melanjutkan penyelaman mereka di dekat dermaga pulau Perak, seakan-akan ga ada habisnya tuh tenaga n napas mereka, mereka sudah ketagihan freediving ngeliat indahnya bawah laut, yang lainnya termasuk saya hanya bersantai menikmati detik-detik berakhirnya liburan, huhuhu.

American

Perjalanan pulang harus berpanas-panasan dan berbagi tempat duduk bersama penumpang lain yang ingin kembali ke Jakarta dan sekitarnya. Tempat duduk di bawah sudah full udah aja saya duduk di atas bersama bule putih dan item ini. Orang asing tak semuanya sombong loh, mereka asyik-asyik juga di ajak ngobrol, yang membuat risih mereka adalah ketika sering orang-orang melihat mereka seperti ngeliat hantu secara di negara mereka katanya jarang ngeliatin orang terlalu lama. Yang putih itu si Jason, katanya Indonesia itu indah banget, banyak yang bilang bahwa negara Indonesia itu negara teroris tapi ketika mereka menyadari Indonesia bukanlah negara seperti itu. Ya semua informasi tidak bisa begitu saja kita telan bulat-bulat, sama aja ketika saya menganggap mereka sombong, toh ternyata tidak lah seperti demikian, hal yang dialami orang lain mungkin berbeda dengan apa yang di alami diri sendiri dan tergantung dari sudut pandang mana kita berpikir, hmm jadi sok bijak banget saya ya, hehe.
Kalo yang hitam itu (selain saya) namanya Justin (ga pake Timberlake or Bieber), dia lama di Singapura dan menguasai 4 bahasa (Inggris, Melayu, Cina dan sedikit India), dan guyss tahukah kalian berapa umurnya sekarang? baru 15 tahun loh..!!saya pun tercengang pas tahu umurnya masih muda banget sampai-sampai saya bilang "ga bercanda kan? seriussss?" walahh bongsor banget, untung aja awalnya saya tidak panggil "sir" kepadanya, hehe.
Putihnya pasir pantas, air laut, terumbu karang dan ikan-ikannya tak bisa ku lihat lagi tuk sementar waktu, harus kembali bekerja n mencari uang guys biar bisa jalan-jalan lagi, hehe, tapi yang pasti harus tetap SEMANGAT n HAPPY donk, yupp bahagia berasal dari dirimu sendiri bukan dari orang lain or keadaan sekitar or apapun juga, ketika kau sudah memilih bahagia maka kau pasti akan bahagia...










Minggu, 08 Juli 2012

Rote Ndao - Day 8

Adventure to Rote Ndao


-Minggu, 8 Juli 2012 Hari terakhir di Rote Ndao
Kala itu adalah pagi yang cerah dan kami terbangun untuk memulai kegiatan yang terakhir di Rote. Pukul tujuh waktu setempat kami sudah bersiap- siap untuk berangkat ke Palabuhan Pantai Baru, karena kami mendengar berita bahwa Kapal laut sudah boleh berlayar. Yonna memberitahu bahwa kapal Feri lambat akan berangkat pukul 3 sore waktu setempat sesuai dengan jadwal biasanya, maka kami pun bersiap-siap dan mengemas barang.

Ka'Glory, Bapatua, Mamatua dan Eno
Susie Mama Sabio dan Anak-anaknya

Setelah itu saya mengambil foto keluarga di Dulosi untuk kenang-kenangan dan saya berjanji akan mengirimkan hasil fotonya suatu saat nanti. Seorang gadis kecil yang cantik dan berambut panjang, tampak enggan di foto. Selesai berfoto, ada kabar terbaru dari Yonna bahwa kapal laut baru akan berangkat dari Rote menuju Kupang pada pukul 6 pagi esok hari. Tak pelak kami pun menunda pergi ke pelabuhan untuk beberapa jam kemudian. Si Eno pun mengeluarkan idenya, "bagaimana jika bermain PS 2 di Batutua dulu lalu berangkat sore hari ke pelabuhan dan menginap di sana daripada kita berangkat malam hari karena lebih riskan". Baiklah rencana itu sepertinya bagus untuk dilakukan. Berangkat ke desa Batuta untuk bermain PS 2. Waktunya bermain dan setengah jam permainan datang lagi kabar dari Yonna bahwa kapal laut akan berangkat jam 3 sore dan harus sampai di pelabuhan jam 11 untuk mengantisipasi kehabisan tiket kapal lautnya. Sepintas dalam benak terasa jengkel karena kabar yang simpang siur terlebih saat itu saya dalam posisi kalah bermain, hehehe. Rencana pun berubah secepat kilat, saat itu sudah jam setengah sepuluh maka saya dan Eno harus meninggalkan permainan PS 2 yang belum selesai dan segera ke desa Dulosi untuk mengambil barang-barang kami. Kami hanya berpamitan singkat dengan keluarga Mama Kecil dan K'Samy yang ada di Batutua. Sampai di desa Dulosi, yang ada hanya Mamatua dan Bapatua sehingga kami hanya berpamitan kepada mereka sedangkan ka'Glory sedang pergi ke Gereja dan Fe'i masih belum bangun. Begitu pun dengan Susie Mama Sabio yang kami temui, kami hanya berpamitan singkat dan segera pergi. Saat diperjalanan kami terhalang beberapa kali oleh sapi dan kerbau yang seenaknya malang melintang melewati jalan dan bahkan ada sapa-sapi yang duduk seenaknya di tengah jalan (terlihat lucu memang sapi-sapi itu dan mengesalkan juga bagi kami karena sedang buru-buru). Kami melewati Ba'a dan singgah di toko souvenir untuk mengambil oleh-oleh yang sudah saya beli beberapa hari yang lalu dan bertemu Yonna di sana.
Yup, toko itu dengan adik Dhea yang imut beserta mamanya kami lalui pula dan kami berpisah dengan Yonna di suatu pertigaan. Cepat dan bertambah cepat laju motor di pacu sampai-sampai tak terasa bahwa bahan bakar motor mau habis dan kami tidak melihat penjual BBM eceran. Ada juga satu toko yang menjualnya dengan harga 8 rb per liter, mau-tak mau kami membeli nya sebanyak 2 liter dari pada harus mendorong motor sampai pelabuhan.

Gapura dekat Pelabuhan Pantai Baru

Saat tiba di pelabuhan Pantai Baru, terlihat kendaraan sudah mengantri begitu pula dengan para penumpang yang ingin menuju Kupang sama seperti saya dan Eno. Kami segera membeli tiket kapal laut dan untungnya belum kehabisan tiket seperti yang di khawatirkan. Perut terasa lapar dan sambil menunggu kapal laut, saya dan Eno mencari makan di sekitar pelabuhan itu. Saat di rumah makan yang kami singgahi, saya memesan minum es teh manis, dan pemilik rumah makan itu berkata "di sini klo pesan es teh pasti manis" dan saya berkata "oh ya, berarti tidak ada yang tawar dong bu?", lalu Ibu itu menjawab "pasti selalu maniseee". Saat di rumah makan itu pula kami bertanya-tanya kepada salah seorang paman yang sedang makan juga, "kapal menuju Kupang berangkat jam berapa ya paman?", lalu paman itu yang merupakan salah seorang petugas pelabuhan menjawab "kapalnya akan tiba sebentar lagi tapi akan menginap malam ini baru esok hari sekitar jam 6 pagi baru berangkat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan", "lalu bagaimana dengan tiket yang sudah kami beli?", "tidak apa-apa, di simpan saja, itu masih berlaku untuk esok hari". Selesai makan kami mengatur rencana, dari pada harus menunggu sampai esok hari dipelabuhan lebih baik kami pergi ke pantai Batu Termanu melihat sunset bersama Yonna nanti sore, setelah itu kembali ke pelabuhan dan tidur di pelabuhan. Kerena masih jam setengah dua maka masih terlalu siang untuk melihat sunset sehingga saya dan Eno pun mencari rental PS 2 terlebih dahulu sebelum ke Pantai Batu Termanu. Setelah bertanya-tanya kepada beberapa orang tempat rental PS 2, akhirnya kami sampai di tempat itu, meskipun layar TV nya tidak besar, kami tetap antusias memainkannya sambil menunggu sore hari. Yup, akhirnya saya memenangi beberapa pertandingan sehingga kali itu si Eno harus membayar rental PS 2 nya. setelah bermain dua jam, saya dan Eno pun berangkat ke pantai Batu Termanu dan bertemu Yonna di sana.

Perahu Nelayan yang Hendak Bersandar di Pantai Batu Termanu

Tak berapa jauh memang jarak antara pelabuhan Pantai Baru dengan pantai Batu Termanu. Saat tiba di pantai itu terlihat ada beberapa orang yang mengenakan baju seragam sedang asik bermain, mungkin mereka dari suatu perkumpulan yang sedang bertamasya di sana. Tak ketinggalan Kami pun bersenang-senang juga, saat kelompok teman-teman yang didominasi anak-anak itu ingin melakukan suatu tari-tarian, si Yonna yang suka sksd langsung ikut dengan mereka, tari yang mereka lakukan namanya "Tari Kebalai" salah satu tari khas Rote katanya. Akhirnya sampai juga waktu yang kita tunggu-tunggu untuk melihat sunset, indah dan teduhnya kala itu. Ternyata ada maksud tersembunyi dibalik tertundanya kapal laut, yaitu supaya kami bisa melihat sunset terakhir di Rote.

Sunset di Batu Termanu


Setelah matahari sembunyi di peraduannya nya maka kami memutuskan mencari makan di Ba'a sebelum akhirnya kembali lagi ke pelabuhan Pantai Baru. Berangkat dan menu yang kami pilih kala itu adalah ikan bakar dan sate, sempat cobain kue bajongko (dibuat dari campuran tepung beras dan tepung terigu plus santan kelapa, dikasih gula lempeng ditengahnya trus dibungkus pake daun pisang dan dikukus) dan Fla’ (susu kerbau yang dimasak dengan gula lempeng). Kira-kira jam 9 malam akhirnya saya dan Eno benar-benar berpisah dengan Yonna (entah mengapa setelah dipikir-pikir, saya harus berpamitan dua kali banyaknya sebelum akhirnya berpisah mungkin jika hanya sekali kurang puas kali ya, hehehee). Jalan ke pelabuhan Pantai Baru yang gelap tanpa lampu jalan tapi tidak menyurutkan niat kami untuk ke sana. Sekali lagi tanpa terasa ternyata bahan bakar motor mau habis, waaa kenapa kami lupa lagi mengisi bensin di Ba'a yang tentunya harganya lebih murah, sehingga kami harus mencari eceran dan mendapatkanya dengan harga 9 rb per liter (wow, so expensive). Akirnya sampai di pelabuhan dan tak berapa lama kami naik ke kapal Feri dan menghabiskan malam disana, baru pagi esok harinya kapal laut berangkat ke Kupang..(finally we go to Kupang).
This is the End story of 'Adventured To Rote Ndao'



NB : Setelah sebulan kunjungan saya ke Rote, Yonna memberi info bahwa selama tiga minggu dia menonton surfing di Nembrala, "gulungan ombak yang katanya 7 itu, bukan 7 ternyata tapi 9 gulungan, yang selancar macem-macem, ada selancar air, ada juga yang selancar angin (papan selancarnya dilengkapi layar jadi menggunakan tenaga ombak plus angin). Tempat selancarnya agak ke dalam laut,, (setelah batas surut) jadi kalo mau menonton mereka degan close up harus jalan kaki ke sana atau dengan speedboat/sampan. Bule-bule semakin banyak mulai Juli sampai September karna ombak lagi bagus-bagusnya. Kemarin pas saya di sana, ada sekitar 50an orang yang lagi surfing. Kereeen sangaaaattt pokoknya. Ombaknya keren, bulenya lebih kereeenn lagi. Lucunya ada bule namanya Chris dy bilang gini: “ Indonesia itu bagus banget, udh 5 taun saya di sini keliling Indonesia dan tidak mau lagi saya pulang ke Brazil sana". Wahh beruntung sekali si Yonna...

Sabtu, 07 Juli 2012

Rote Ndao - Day 7

Adventure to Rote Ndao


-Sabtu, 7 Juli 2012
Memulai hari yang lebih pagi dari sebelumnya, jam 8 waktu setempat (satu jam lebih awal dari kemarin), saya dan Eno yang bangun hampir berbarengan melihat kebelakang dan hanya ada Bapatua saja. Si Fe'i baru tiba dengan sepeda nya sehabis mengirim minum untuk Mamatua dan ka'GLory yang ada di ladang menyiram bawang. Saat itu saya langsung berkata ke Eno "ke ladang yukss", tapi Bapatua membutuhkan Eno untuk mengambil beberapa buah kelapa yang sudah dipetik beliau dekat desa Batutua. Kebetulan datang Susie Mama Sabio beserta Sabio ingin mencuci pakaian di kali sehingga saya pergi ke ladang bersama mereka, sedangkan si Eno dan Fe'i mengambil buah kelapa menggunakan motor.. Sepertinya Susie Mama Sabio lupa ladang mana yang akan kami tuju, sehingga kami harus berputar-putar dahulu. Akhirnya ketemu juga, Mamatua sedang duduk melepas lelah sambil menenguk minuman yang tadi di bawa oleh Fe'i sedangkan ka'Glory dengan giat dan tangguhnya memikul dua ember sebelah kiri dan kanan dengan sebilah bambu di pundak, Wow.

Ka'Glory Menyiram Bawang 

Rasanya tak ingin hanya berdiam diri saja dan ingin ikut merasakan siram bawang maka saya meminjam ember yang digunakan Mamatua. Yup, air diambil tak jauh dari ladang, dengan menundukkan badan sambil mengayuh ember satu per satu tuk mengambil air dan berdiri menahan kedua ember itu dengan bantuan sebilah bambu di pundak. Terasa berat dan sulit menjaga keseimbangan tuk percobaan yang pertama ini, rasanya air di ember mau tumpah saat saya berjalan. Yang tersulit adalah saat menyiramnya, dengan sebuah Haik (semacam gayung yang bawahnya di beri lubang yang banyak) saya mencoba mengambil air di ember yang satu sambil menjaga keseimbangan ember yang ada di sebelah pundak saya satu lagi (wowowo, easy man, slow down, benak saya berkata agar air tidak tumpah semua sehingga bisa merusak tanaman bawang). Perlahan-lahan tapi pasti saya berhasil menyiram dengan Haik itu sampai kedua ember di pundak tak bersisa, wow lega rasanya percobaan pertama berhasil.

Nyobain Siram Bawang

Saya mencoba untuk kedua kalinya, percobaan kedua ini terasa lebih lancar (sombong dikit, hehe). Setelah beberapa kali percobaan Mamatua pun meminta saya untuk berhenti karena takut pegel-pegel, lagi pula tinggal sedikit bawang yang belum disiram. Betul juga kata Mamatua, pundak saya terasa ngilu sekali sehabis menyiram tapi saya tidak memberitahunya saat itu, malu dong nanti disangka kalah sama ka'Glory, wanita saja kuat masa pria lemah. Kerja keras..!! yang saya pelajari pagi itu, sebuah contoh yang simple tapi punya arti yang mendalam, guyss tak peduli apa yang kau tekuni asalkan masih dalam kategori positif, dengan kerja keras pasti akan menuai hasilnya..!! Setelah itu saya, Susie Mama Sabio dan Sabio pulang sedangkan ka'Glory dan Mamatua masih tinggal di ladang. Sebentar singgah di kali tuk mencuci pakaian yang Susie Mama Sabio bawa, setelah mencuci barulah kami pulang. Saat tiba di rumah, si Eno dan Fe'i sudah selesai mengambil buah kelapa sehingga saya dan Eno bersiap-siap untuk pergi ke desa Batutua lagi, rencananya adalah mencuci lagi karena pakaian kami sudah kotor lagi semenjak tiga hari lalu mencuci pakaian di desa itu. Berangkat, beserta pakaian kotor yang kami bawa, dan sampailah kita di desa Batutua di rumah Mama kecil, tempat kami pertama kali mencuci pakaian juga disana. Rendam, sikat-sikat, bilas-bilas dan jemur, yuuhuu nasib para bujangan dan petualang, wkwkwkwk. Setelah selesai mencuci dan bersantai sebentar sambil mencash HP dan kamera, saya dan Eno pergi ketempat ka'Anggi karena ada sebuah order pekerjaan, ingatkan kemarin ka'Anggi membeli antena parabola bersama Eno, nah kami diberikan order lanjutan yaitu memasangnya. Tiba di sana, kami langsung bergerak bermaksud ingin memasangnya tapi yang jadi kendalanya adalah tidak ada buku petunjuknya, nahh lalu bagaimana kami bisa memasang ini. Ka'Anggi pun menelepon seseorang yang memang sudah sering pasang bongkar antena parabola tipe lama maupun baru (pasang aja klee, bongkar mah gampang, hehehe) jadi kami bertiga memasang antena parabola tipe baru itu (antena nya tidak terlalu besar dan tiang penyangganya pun pendek), memang lebih baik bertiga daripada seorang diri. Dimanakah antena parabola itu dipasang? diatap or di depan mess?, kami mencoba opsi pertama yaitu diatap dan pastinya butuh tangga untuk naik kesana, tangga dapat, Eno beserta kawan yang satu naik ke atap sedangkan saya lebih baik menunggu di bawah saja untuk memberikan umpan lambung alat-alat yang mereka perlukan. Hmmm, rancangan di atap pun gagal karena satu dan lain hal sehingga mencoba opsi kedua yaitu dipasang di depan mess, dengan menambah tiang antena dengan sebilah kayu agar lebih panjang, tak perlu lama antena parabola itu terpasang. Tak terasa sudah pukul setengah lima sore kala itu, saya dan Eno bermaksud ingin pulang karena ada undangan acara pernikahan tapi ka'Anggi menahan kami dengan menyuguhkan minum kopi serta makanan kecil. Kopi pun kami habiskan dengan cepat agar bisa segera pulang tapi ka'Anggi masih menahan-nahan kami, dengan berbagai alasan (jemuran lah yang belum diangkat lalu kami harus kembali dulu ke desa Dulosi) ka'Anggi pun memperbolehkan kami pamit dengan berat hati. Orderan kecil selesai, kembali ke rumah Mama Kecil tuk mengambil jemuran dan berharap sudah kering semua lalu pulang ke Dulosi untuk menyimpan pakaian dan barang yang lain. Setelah siap dengan pakaian yang lebih bersih bukan pakaian yang lebih rapi, saya dan Eno kembali lagi ke desa Batutua untuk memenuhi undangan pernikahan yang disampaikan Pak kapten secara lisan. Sampai di sana saat acara keagamaan sehingga kami menunggu terlebih dahulu tapi tak berapa lama kami bertemu istrinya K'Samy dan mengajak kami tuk ke rumahnya karena sudah potong ayam untuk kami berdua (nahh tambah repot lagi keluarga k'Samy). Untuk menghargainya saya dan Eno pun singgah di rumah k'Samy lagi dan menerima hidangan dari mereka lagi. Kali ini lebih mewah karena sudah memotong satu ekor ayam untuk kami, woww. Selagi k'Samy dan istrinya menyiapkan hidangan, saya bermain dengan anak-anaknya, senang sekali melihat adik-adik kecil anaknya ka'Samy yang masih lucu-lucu itu dan saya cubit gemes pipi mereka. Hidangan siap dan waktunya makan, kami bertiga (saya, Eno dan k'Samy) menyantap makanan tapi dalam benak saya sejak pertama kali makan disana kenapa istri k'Samy tidak turut makan bersama kami padahal dia yang menyiapkan semuanya, hmmm (usut punya usut ternyata mereka menganggap bahwa tidak sopan katanya kalo anak-anak dan istri ikut makan dengan tamu...) Setelah selesai makan dan cukup beristirahat untuk menurunkan makanan di dalam perut, saya dan Eno pergi ke pesta nikah itu karena belum bertemu Pak Kapten yang mengundang kami ke sana.

Acara Pernikahan di Desa Batutua

Saat di tenda biru, kami duduk paling belakang karena malu rasanya pakaian yang terlihat paling sederhana. Kami bertemu Mama kecil disana dan mengajak tuk mengambil hidangan yang telah disediakan untuk semua tamu yang hadir. Padahal kami telah memberitahu bahwa baru saja makan tapi tetap saja Mama Kecil memaksa, mau-tak mau kami pun mengambil hidangan tuk makan malam yang kedua. Tiba-tiba kami bertemu dengan Pak Kapten sehingga kami memberi selamat ke beliau bukanya memberikan selamat langsung kepada pengantinnya, hehe. Acara pernikahan yang meriah dan mewah untuk ukuran desa di sana dengan tolak ukur nya adalah undangan yang hadir saat itu. Karena acara melantai (berdansa) belum dimulai, saya dan Eno pergi ke rumah Mama Kecil untuk menonton Final Indonesia Idol 2012 (kebetulan sekali finalnya pada hari itu). Saat itu kedua finalis merupakan penyanyi yang hebat sehingga sayang untuk dilewatkan. Tak berapa lama suara sound sistem yang keras dan hebat mulai terdengar menandakan bahwa melantai telah di mulai. Saya dan Eno tetap menonton Indonesia Idol untuk beberapa lamanya dan sampai waktu yang tepat kami meninggalkan acara Indonesia Idol itu menuju acara melantai. Ketika melihat acara itu banyak sekali yang melantai didominasi oleh kaum pria tentunya (pasti sudah pusing karena asupan 'air kata-kata or sopie') tetapi ada juga para wanita yang ikut melantai. Kami melihat Pak kapten duduk, sehingga kami menemaninya duduk dan sepertinya beliau tidak terlalu suka melantai buktinya beliau tidak beranjak dari tempat duduknya bahkan tak menggerakan anggota badannya di tempat duduk sebagai tanda menikmati musik saat itu. Si Eno mengajak saya melantai tapi karena saya tidak pandai untuk itu sehingga saya tidak mau, terlebih jika pasangannya bukanlah seorang wanita cantik (jika pasangannya wanita, saya pasti mau, hehehe). Waktu sudah menunjukan tengah malam, tak terasa memang melihat acara seperti ini, lalu kami beranjak untuk pulang dan pamit kepada Pak kapten yang duduk disebelah kami. Waktunya tidur dan pastinya di desa Dulosi seperti malam-malam sebelumnya.


Jumat, 06 Juli 2012

Rote Ndao - Day 6

Adventure to Rote Ndao


-Jumat, 6 Juli 2012, Pangkalan Laut Dulosi, dikenal dengan sebutan “deranitan”
Seperti biasa, saya bangun tak terlalu pagi dan tak terlalu siang juga kira-kira jam 8 lewat satu jam, saya langsung beranjak ke belakang rumah melihat sedang apakah ka'Glory, Bapatua, Mamatua dan Fe'i. Hanya Bapatua yang saya temui kala itu, sedang memberi makan seekor babi kecil yang diikat. Kelapa tua yang sudah dipotong-potong kecil sebagai makanan babi itu. Saya pun bertanya kepada Bapatua "k'Glory, Mamatua dan Fe'i kemana kah?" dan Bapatua menjawab "Glory sedang menyiram bawang di ladang, Mamatua dan Fe'i masih tidur di kamar". Si Eno pun tak lama bangun dan menyegarkan matanya. "kemana rencana hari ini?" tanya saya, dan Eno menjawab "bagaimana kalo ke pangkalan laut", baiklah memang setiap malam ketika pulang kami selalu melihat lampu-lampu yang terang benderang di pangkalan itu dan tentunya penasaran dengan tempat itu. Saatnya membersihkan dan menyegarkan badan sebelum berangkat ke sana. Sebelum berangkat kami sarapan dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh ka'Glory, pastilah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan kami dan setelahnya pergi ke ladang menyiram bawang (baiknya ka'Glory itu..).  Saat tiba di pangkalan laut itu ada dua angkatan laut yang sedang tugas menjaga pos masuk. Kami memarkir motor kemudian memberikan salam, saat saya melihat nama di seragam kedua angkatan laut itu pastilah dua orang ini adalah orang Batak, bagaimana tidak yang satu adalah Raja Simamora dan yang satu lagi Simatupang (yang ini tulang saya, hehe). Dalam benak saya meskipun di tempat terpencil seperti ini tetap ada saja orang Batak walaupun sedikit, sepertinya orang Batak menetaskan telur di mana saja, hehehe. Kami bercakap-cakap dengan mereka dan saya mencontoh si Yonna yang suka SKSD kepada orang-orang, hasilnya tak terlalu merugikan bahkan menurut saya menguntungkan asalkan sikap dan cara berbicara yang baik dan benar. "Lae, bolehkan kami mengambil gambar di pangkalan ini?" tanya saya kepada Raja Simamora, dan dia pun menjawab "boleh saja lae, asalkan jangan ke sebelah perkantoran sana, ada yang sedang kerja..!!", "ohh, ok baiklah Lae". Saya dan Eno pun pergi ke tempat yang hanya diperbolehkan Lae Simamora, kami menuju tebing yang juram dan sepertinya tempat yang pas untuk orang yang sedang patah hati.

Tebing di Pangkalan Laut Rote


Kami melihat sekeliling di tempat itu tapi tak terlihat adanya kapal laut milik pangkalan (hmmm, sungguh aneh rasanya, bagaimana bila nanti ada serangan tiba-tiba dari para penyusup), tapi bagaimana mungkin ada kapal yang bisa bersandar di tempat itu karena pelabuhan untuk kapal bersandar pun belum ada, lagi pula ombak nya tinggi-tinggi. Tak apalah, kami tak perlu pusing-pusing memikirkan hal itu, toh mereka pasti sudah ada solusinya dan dari pada cape-cape memikirkan hal itu lebih baik foto-foto saja. Kembali ke pos karena terik matahari sudah semakin menyengat dan angin semakin kencang, takut-takut malah nanti kami terbang tarbawa angin ke dasar tebing. Saat kembali ke pos pangkalan, kami bercakap-cakap sebentar dan menanyakan kepada Lae Simamora "jadi dimana lae kapal lautnya, ko tidak terlihat ya?", jawabnya "memang tidak ada disini, kalau kita butuh, dipanggil dari Kupang" ohh begitu, pantas saja tak terlihat sekitar pangkalan ini. Kami bermaksud untuk pamit tapi sebelumnya saya dan Eno meminta kembali KTP kami yang ditahan dan setelah saya lihat foto di KTP saya ternyata sudah tidak ada lagi. Memang KTP saya tidak dilaminating, saya curiga jangan-jangan disimpan sebagai tanda mata,haha. Tiba di desa Batutua tepatnya dirumah k'Samy, mereka sedang berada disamping rumah, ada istri k'Samy juga, ternyata ada Susie Mama Sabio juga dan Susie yang saya lupa namanya. Mereka sedang mempersiapkan sayur untuk makan sambil bersenda gurau.

Anak-anaknya K'Samy
Lucu nya Adik-adik ini















Adik-adik kecil, anaknya k'Samy sedang asik bermain disitu. Karena si Eno ada panggilan untuk menemani ka'Anggi membeli antena parabola di Ba'a maka saya tinggal bersama keluarga k'Samy siang itu. Saya pun ikut sedikit membantu memperbaiki gubuk itu sambil bercanda dengan Susie Mama Sabio (dia mengajarkan saya banyak bahasa Rote, pada saat itu saya cepat tangkap tapi karena terlalu banyak akhirnya lupa juga deh, hehe). Selesai memperbaiki gubuk, saya dan k'Samy bermain catur 2 set banyaknya dan sepertinya bisa ditebak, saya kalah lagi tuh, walah kalah truzz..Setelah itu Susie Mama Sabio mengajak saya dan k'Samy makan. Ok, time to lunch guyss..!! Menu makan saat itu adalah sayur daun ubi dan bunga pepaya dan sambal dabu-dabu. Meskipun tanpa lauk, saya dan k'Samy makan dengan lahapnya. Saat sedang makan Susie Mama Sabio mengatakan "ingin foto-foto di karang Batutua yang ada dipantai sehabis makan", "baiklah nanti kita pergi ke sana" jawab saya. Makan selesai dan tanpa menunggu terlalu lama saya beranjak bersama Susie Mama Sabio dan Susie yang saya lupa namanya, hehe. Sepanjang perjalanan dan saat sesi foto-foto bak model top, kami bertiga bercanda sambil tertawa terbahak-bahak dan saya dicekokin bahasa Rote yang terlalu banyak, sampai-sampai tak ada yang saya ingat lagi.. Kira-kira 1 jam setelahnya kami kembali lagi kerumah k'Samy, setelah sampai saya dan k'Samy pun melanjutkan permainan catur lagi. Beberapa set saya selalu kalah, sampai pada suatu set yang dapat saya menangi dengan susah payah (yeahh, akhirnya bisa menang juga, horee) lega rasanya bisa menang walaupun cuma sekali tapi pertandingan berikutnya tetap saja saya yang kalah lagi, hehe. Si Eno pun tiba menjelang sore dan kami bermaksud untuk segera kembali ke desa Dulosi tapi lagi-lagi kami disuruh makan terlebih dahulu, kali ini istri ka'Samy menyediakan menu yang agak berbeda yaitu mie goreng, sayur dan gorengan (betul-betul saya merasa tidak enak hati karena istri k'Samy pasti repot menyediakan itu semua).
Goyang duyuu


Tak jauh dari rumah k'Samy, ada tenda biru yang didirikan karena akan ada acara pernikahan esok harinya, sehingga para ibu-ibu termasuk istri k'Samy dan Mama kecil turut membantu mempersiapkan bumbu masakan untuk esok hari, memang disana tolong-menolong untuk acara pernikahan masih sangat kental meskipun berbeda agama.
Saya dan Eno pun mencoba melihat sejenak ke sana, ada ibu-ibu yang sedang bergoyang ria selepas mempersiapkan kebutuhan pernikahan esok hari. Ternyata acara pernikahan esok adalah acara pesta pernikahan dari keponakan Kapten Kharisma 2 (seorang yang kami kenal, kapten yang biasanya me-nahkodai kapal laut Kharisma 2 untuk tujuan Wetar). Saya dan Eno bahkan bertemu langsung dengan Pak Kapten itu dan beliau mengundang kami untuk hadir di acara pernikahan besok, "nah, tidak apa-apa nih Pak karena pakaian kami seperti ini, soalnya kami tidak membawa kemeja ataupun pakaian yang pas?", beliau mengatakan "tidak apa-apa, yang penting kalian datang saja besok". "Baiklah jika Pak tidak keberatan, kami akan datang besok". Akhirnya saya dan Eno kembali ke desa Dulosi tuk melepas malam di sana, zzz..zzz..

Kamis, 05 Juli 2012

Rote Ndao - Day 5

Adventure to Rote ndao

- Kamis, 5 Juli 2012, Tiang bendera
Hari ini memulai aktifitas jam 9 pagi masih cukup pagi saya rasa, hehehe. Rencana hari ini adalah pergi ke Tiang Bendera bersama Eno dan Yonna. Saya lihat Bapaktua dan Ka'Glory sedang memasak dan ternyata sodara-sodara pemirsa, mereka sedang memasak Sei Ba loh, wow yummii. Sei itu asap dan Ba itu daging babi dan jadilah babi asap, sebenarnya Babi panggang karena ada api dibawahnya tapi mungkin karena sudah sering bilang Sei Ba, yang saya pikir hanya diasapkan saja tanpa ada api atau panas. Setelah daging dibumbui, ditaruh diatas panggangan yang agak jauh dari api dan diatasnya ditutupi daun Kusambi mungkin agar cepat matang dan tidak kotor selain itu  juga memberi rasa khas pada daging sei. Tidak pakai kayu bakar loh, pakai sabut kelapa karena stok sabuk kelapanya buanyak sekali dari pada harus repot-repot cari kayu kering.
Saya pun membersihkan diri dan bersiap-siap pergi ke Tiang bendera, sebelum berangkat saya dan Eno makan dong, kali ini makan Sei Ba yang baru matang itu, ueenak loh.

Bapaktua Sedang Memanggang Babi


Si Yonna sudang menunggu di pertigaan Busalangga (nunggu lagi deh, kali ini agak lama menunggunya, hehe), yukss capcus ke tiang bendera. Dari pertigaan Busalangga ke tempat itu kira-kira menempuh jarak 30 menit dan sepertinya tempat-tempat wisata di Rote harus menempuh jarak yang lumayan jauh dan menantang karena jalannya berbukit-bukit dan banyak yang rusak (harusnya ada perbaikan jalan dari dinas PU nih tuk memudahkan para wisatawan lokal maupun mancanegara). Sampailah kami di Tiang bendera itu, tak berapa lama setelah sampai si Yonna memberikan saya kain tenun Rote bermotifkan cicak (motif campuran modern dan tradisional katanya), dengan senang hati saya menerima pemberiannya (sebenarnya saya mau membeli kain tenun saat membeli kaos dan topi Tiilangga waktu itu, tapi berhubung harganya agak mahal dan kantong pun menipis akhirnya niat diurungkan dan kebetulan sekali malah dapet gratisan dari Yonna, hehe. thanks so much lah). Setelah melihat-lihat tempat itu, saya bertanya "mana tiang benderanya Yonna?" dan dia menjawab "itu" sambil menunjuk karang yang memang terlihat ada tiang di sana. Walaahh, saya kira tiang benderanya seperti apa, lalu saya melanjutkan pertanyaan saya lagi "ko bisa ada di situ?", jawabnya "katanya sih sudah ada dari dulu sejak penjajahan Belanda", hmm entah bagaimana orang-orang doloe membuat tiang bendera itu, tiang bendera yang terbuat dari batu, tak terlalu tinggi memang tapi terlihat khas karena menyerupai segitiga dan terletak diatas karang, karangnya pun terpisah dari daratan pantai...Ya sudah lah tak apa-apa, yang penting bisa lihat pantai dan jalan-jalan lagi, hehe...

Tiang Bendera


Duduk di salah satu pendopo yang ada di sana dan si Yonna menceritakan kembali bagaimna kisah kemarin yang dompet nya bisa kembali.. Berceitalah Yonna dan sesekali diselingi pertanyaan-pertanyaan dari saya dan Eno. Setelah bercerita, saya berpikir wow that's amazing (kekuatiran yang kami serahkan kepada-Nya akan diubahkan menjadi sesuatu yang membuat kami heran dan takjub asalkan bermodal percaya saja). Baiklah setelah bercerita dan mentransfer foto-foto ke laptop, kami beranjak pergi dari Tiang bendera itu karena si Yonna mau menghadiri acara pemberkatan temannya dan guyyss si Yonna mengajak saya dan Eno tuk ikut, "tidak apa-apakah dengan pakaian dan penampilan kami yang seperti ini?" (saya hanya memakai kaos, jeans dan sendal, sedangkan si Eno lebih keren dari saya kaos, jeans dan sepatu). si Yonna menjawab "tidak apa-apa ko, be pun cuma seperti ini aja" (meskipun begitu penampilannya lebih bagus dari saya dan Eno), "baiklah asalkan kamu tidak malu nantinya".



Dengan penampilan yang cuek dan apa adanya bahkan bisa dibilang semrautan, kami menuju tempat pemberkatan temannya, di Gereja GMIT Bethania di Ba'a. Setelah sampai di Gereja itu belum terlihat adanya tamu-tamu, yang ada hanyalah tukang-tukang yang sedang bekerja memperbaiki Gereja di sebelah sampingnya. Hmmm, masa pemberkatan nikah terlambat dan belum ada yang datang? pertanyaan tadi sepintas ada dalam benak saya. Beberapa saat menunggu perut kami jadi terasa lapar, Eno pun mengusulkan tuk beli gorengan sambil menunggu pengantin tiba. Gorengan sudah terbeli dan kami menikmatinya di sebuah pendopo dekat Gereja dan berhadapan dengan lapangan bola sambil bercerita-cerita dan bergurau.. Setengah jam pun berlalu tanpa adanya penampakan bahwa pengantin ataupun para undangan datang ke Gereja, mungkin hanya Yonna saja tamunya, hehehe. Baiklah sepertinya ada salah informasi sehingga kami pun memutuskan untuk pulang karena entah akan berapa lama lagi kami menunggu pengantin yang belum mau menikah dan kami pun tak menjadi malu (mungkin juga pengantinya malu ada tamu seperti kami) karena penampilan kami yang berantakan jika memang acara hari itu berlangsung. Saya pun mengajak Eno untuk bermain PS 2 di Batutua sebelum pulang ke Dulosi, maklum rasa penasaran karena kalah waktu itu belum terhapuskan (klo kalah memang rasanya tidak enak). Kami berpisah dengan Yonna dari pendopo itu dengan jalan yang berbeda.

Senja di Desa Dulosi

Kira-kira 20 menit perjalanan dari Ba'a ke Desa Batutua melewati persimpangan Desa Dulosi dan kala itu hari mulai senja. Pertandingan PS 2 pun segera dimulai, jreng-jreng.. Setelah dua jam bermain ternyata kami seri sehingga kami harus patungan bayar rental PS 2 nya, gagal menang lagi deh. Setelah selesai bermain kami pulang ke desa Dulosi, tentu saja untuk beristirahat karena entah bagaimana saya lebih nyaman tidur disana dari pada di desa Batutua ataupun di tempat lain. Tiba di rumah Desa Dulosi, Ka'Glory menyambut kami dan dengan khasnya dia berkata "Eno Na'e, lu su pulang", ka'Glory, Bapatua dan Matua yang ada di rumah langsung menawarkan kami makan. Nah kebetulan pada hari itu memang kami belum makan malam jadi tidak ada rasa malu-malu, hehehe. Kami memang sengaja tidak singgah di rumah Mama Kecil atau K'Samy di Batutua karena pasti dikasih makan dahulu sebelum pulang. Makanan pun kami santap dengan lahapnya, setelah makan saya pun bercerita dengan Mamatua dan Bapatua. Bahwa Mamatua suka pergi ke pantai pada malam hari sampai subuh untuk menjaring ikan, udang ataupun kepiting bersama dengan temannya yang sebaya dan hanya dua atau tiga orang saja, saya terkaget-kaget mendengar cerita itu (that women are so brave). Guyss tahukan kalian bahwa hasil tangkapannya pun tak seberapa banyaknya. Setelah lama bercerita, mata sayapun terasa lelah dan mengantuk sehingga saya minta ijin kepada Mamatua dan Bapatua untuk istirahat dan malam pun berlalu ditemani oleh cahaya pelita dan bintang-bintang yang indah di Desa itu...



Rabu, 04 Juli 2012

Rote Ndao - Day 4

Adventure to Rote Ndao

- Rabu, 4 Juli 2012, kalah lagi kalah lagi
Petualangan hari ini tidak sehebat kemarin, saya hanya merasakan bagaimana kalah dan kalah lagi..(ahhhh tidakkk..!!). Bangun agak siang karena rasa lelah kemarin, saya menuju dapur dan menemukan Bapatua sedang memberikan makan kepada babi sedangkan ka'Glory sedang mencuci porabotan sambil memasak nasi. "selamat pagi Bapak tua dan ka'Glory" salam saya kepada mereka "ya, pagi" sahut mereka. Saya bergesas mencuci muka yang entah bagaimana tampang saya, pasti ancur berantakan, hehehe. Si Eno pun akhirnya bangun dan kami merencanakan kegiatan hari itu, setelah berpikir-pikir sepertinya kami harus mencuci baju karena baju yang kami bawa hanya beberapa potong saja dan itupun sudah berulang-ulang kami pakai (tanpa kami sadari mungkin kami sudah menyebarkan bau keringat ke orang-orang disekitar kami dan terlebih pakaian dalam sudah 'side A', 'side B', hehee).
Baiklah rencana sudah diputuskan 'jengjeng' yaitu mencuci baju, dan kami berencana cuci baju di desa Batutua sekalian mencuci motor 'laki-laki' nya Eno. Berangkat, kami pamit kepada orang rumah dan kira-kira 5 menit dengan motor kami tiba di desa Batutua, mencuci di rumah Mama Kecil - Mama kecil / mama kici / maci : panggilan buat adik perempuan atau istrinya adik laki-laki dari bapak-. Kebanyakan rumah di sana masih menggunakan sumur timba, masih jarang yang menggunakan pompa air. Kami pun harus menimba air terlebih dahulu untuk mencuci pakaian kami masing-masing. Mencuci di mulai dan sambil bekelakar dengan Maci "beginilah nasib belum punya maitua (istri), cuci baju sendiri, wkwkwkw" canda saya sambil menghentak-hentakkan cucian dan Maci berkata "ya, makanya carilah nona-nona Rote dong disini, hahaha" tak pelak canda tawa kami bertiga pun pecah saat itu. Yup, saat itu saya merasa bahagia meskipun cuci baju sendiri dan belum punya maitua (istri), lebih karena keluarga di Batutua maupun di Dulosi menerima saya seperti sudah akrab sekali (kayaknya sudah kenal sekian lama tapi baru ketemu).
Saya selesai mencuci sedangkan si Eno masih sibuk mencuci motornya sehingga saya pun memutuskan untuk membersihkan badan, wow terasa segar sekali setelah badan penuh keringat dan daki, hehehe. Segarnya badan setelah mandi, badan terasa fresh lagi dan giliran Eno yang membersihkan dirinya. Sambil menunggu pakaian yang sedang dijemur, saya beserta adik-adik (anaknya Mama Kecil) menonton tv, kala itu ada siaran FTV salah satu program tv kesukaan saya. Sehabis Eno mandi, diapun mengajak bermain PS 2 (wow didesa ini ada PS 2 nya loh) dengan catatan yang kalah bayar rental PS 2 nya, dan saya pun menerima tantangan tersebut. Tak berapa jauh dari rumah Maci, kami pergi bermain PS 2 selama dua jam dan allhasil saya yang kalah selisih gol dari Eno sehingga saya yang harus membayar rental PS 2 itu (huahh kekalahan yang pertama). Setelah itu kami pergi kerumah K'Samy dengan maksud bermain catur tapi sebelum itu kami disuguhkan makan siang dirumahnya, kebetulan sekali kami lagi lapar sehabis mencuci dan bermain PS 2, kami tak bisa menolaknya kali itu.
Walaupun hanya makan dengan nasi dan sayur sawi tambah cabe rawit tapi rasanya tetap enak mungkin karena kami sedang kelaparan, hehe serta saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya makan setiap hari dengan segala keterbatasan (the important thing is we still alive). Sehabis makan saya pun mengajak K'Samy bermain catur yang katanya terkenal hebat dalam bermain catur sekecamatan. Ronde pertama dimulai, terlihat permainannya berbeda dan mempunyai taktik yang banyak sekali, dan akhirnya saya pun kalah ronde pertama itu (dalam hati saya, permainan k'Samy sudah dua level diatas saya, dia bisa berpikir 6 atau 7 langkah kedepan sedangkan saya baru 3 atau 4 langkah kedepan). Saya belum putus asa, mulai dengan ronde kedua dan guyss kalian pasti sudah tahu saya kalah lagi, hehehe. Semakin berat rasanya bermain dengan K'Samy, tapi rasa penasaran dalam diri saya semakin menjadi-jadi sehingga ronde ketiga pun dimulai, saat ditengah permainan ronde ketiga saat saya sedang pusing-pusingnya, tiba-tiba ada telepon ke HP saya dan begitu saya lihat ternyata panggilan dari Yonna (what? sejenak merasa kaget karena baru kemarin kami bolak balik mencari dompet yang berisikan HP nya didalam dompet itu) maka saya angkat HP itu dengan sedikit bulu kuduk saya terasa berdiri dan suara Yonna terdengar, woww. Sambil merasa tidak percaya saya bertanya pelan "hallo Yonna, ko bisa?" dan Yonna pun menceritakan bagaimana HP beserta isi dompet yang lainnya bisa kembali ke tangannya tapi saat itu saya sedang bermain catur sehingga pikiran bercabang, akhirnya banyak langkah-langkah catur yang ngaur jadinya sedangkan saat Yonna bercerita saya tidak terlalu tanggap, hehehe (maklum deh, begini nih klo pikiran bercabang).
Yup sudah bisa ditebak saya kalah lagi main catur dan kalah lagi di pertandingan setelahnya entah sampai berapa ronde saat itu tapi yang pasti saya kalah terus bahkan tidak pernah remis/seri sama sekali, hehehe. Wahh susahnya bermain dengan K'Samy, baru kali itu saya bermain catur tak berkutik, kalah terus, cape deh...Hari itu tidak terlalu banyak aktifitas dan tidak terlalu melelahkan hanya kepala saya saja yang pusing karena kalah terus main catur, dan sore pun tiba kami ingin kembali ke desa Dulosi tapi lagi-lagi kami ditawari makan sebelum berangkat pulang. Makan lagi di rumah k'Samy (saya merasa tidak enak karena hanya bermain catur saja dikasih makan dan minum kopi).
Setelah makan kami ke rumah Mama kecil dengan maksud mengambil pakaian kami yang di jemur tadi. Begitu sampai, kami pun lantas disuguhkan makan lagi, wow makan lagi guyss, yup begitulah memang adat di sana begitu ada tamu datang ke rumah mereka maka disuguhkan makan walaupun makan seadanya. Untuk menghargai Mama Kecil yang sudah bersusah payah menyiapkan makan maka kami pun makan lagi, hahaaa kueenyangnya..Setelah makan malam dua kali, akhirnya bisa pulang juga ke Dulosi, yeahhh dan setelah sampai bukannya langsung tidur tapi malah disuguhkan kopi lagi oleh ka'Glory. Walah bagaimana badan tidak tambah gemuk jika dikasih makan dan minum kopi melulu, hehehe. Tidak apalah walaupun kalah melulu tapi banyak makan dan minum kopi, uhhuuii..zzzz,zzzzz waktunya tidur.