Rabu, 06 Juli 2016

Libur Lebaran di Ragunan

Libur tlah tiba, libur tlah tiba, hore hore hore.... Begitulah syair lagu yang saya ingat ketika libur datang. Ya, hari lebaran menjadi andil bagi saya dan keluarga untuk berlibur bersama. Meskipun kunjungan kali ini tak jauh jauh amat, tapi karena bareng keluarga hal itu menjadi spesial. Kebun binatang Ragunan, yang terletak di Jakarta Selatan menjadi pilihan kami berlibur, alasannya karena dekat dan murmer. Saya sih tadinya berpikir kalo hari pertama lebaran pasti sedikit yang akan pergi ke Ragunan, karena sebagian orang akan sibuk mudik ke kampung halaman. Tapi saat tiba di parkiran Ragunan, asumsi awal saya menjadi buyar karena sudah banyak motor yang terparkir disana belum lagi antrian pengunjung di loket. Wah, bukannya tempat hiburan yang sepi yang kami datangi tapi malah melimpah ruah keramaian pengunjungnya. Saat antri menuju loket parkir Ragunan, terdengar suara seorang pria yang dibantu toa. Dia menyerukan bahwa karcis tiket sudah berubah menggunakan kartu DKI yang dijual 10 rb dengan pengisian pulsa awal 20 rb. Kartu itu juga bisa digunakan untuk busway transjakarta dan tiket Kota Tua, pria bertoa itu menjelaskan dengan lantang. Salah satu terobosan yang brilian karna mengurangi penggunaan kertas untuk tiket. Meskipun agak maksa karna harus beli kartunya yang harga 10 rb itu (lebih bagus kalo kartunya gratis, tinggal pulsa nya yang harus diisi). Biaya masuk motor adalah 3 rb dan pengunjung dikenai biaya 4 rb perorang, murah bukan?.

Welcome to Ragunan


Kakak Tua Raja

Merak
Beruk on Action
Lutung Budeng

Begitu masuk Ragunan, keramaian sudah terlihat dimana-mana, ini sih jadinya liat manusia lalu lalang bukan hanya liat binatang saja, batin saya bergejolak. Oh ya, saya yang mengajak Mama, Kakak, dan Adik mula-mula melihat hewan reptil dan burung. Ternyata burung Kakak Tua banyak jenis dan warnanya, padahal yang saya tahu hanya lah berwarna putih. Beranjak mengunjugi hewan mamalia, ya salah satu nya adalah orang utan. Tingkah lakunya ya tentu saja bergelayutan di taman bermain yang disediakan di kandang nya. Hewan yang paling seru kami lihat adalah gajah, dia bisa berjalan mundur tanpa menengok ke belakang. Sepertinya gajah itu sudah hafal dan terbiasa jalan mundur tanpa terjatuh. Ada yang seru dari perilaku si gajah, setelah menghampiri pengunjung gajah itu lantas buang air besar dan kecil seakan-akan meledek kami yang ingin berfoto bersama-nya.

Sang Gajah yang Siap Meledek Pengunjung

Ber-uang Madu

Mom dan Burung Onta yang Saling Memandang

Kereta Mobil
Sisters


My Lovely Mom


Together

Belum ada setengah kebun Ragunan itu kami lalui, Mama saya sudah terlihat lelah sekali. Kereta mobil yang lintas di hadapan kami menjadi alternatif untuk mengelilingi kebun raya itu. Tiket Rp 7.500,- per orang harus disediakan untuk menaiki kereta mobil itu. Menaiki kereta mobil itu hanya memutari kebun Ragunan tanpa berhenti di tiap kandang binatang. Yang mengecewakan lagi tak banyak binatang yang bisa di lihat saat menaiki kereta mobil itu plus hanya butuh waktu 10 menit untuk berkeliling, waktu yang sangat singkat bagi saya.
Walaupun tak semewah dan tak sesuai pemikiran saya, tapi menghabiskan waktu liburan dan bertamasya bersama keluarga adalah hal yang istimewa.



Kamis, 16 Juni 2016

Sejenak di Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP)

Siang yang hangat tanpa kegiatan di hari itu, bosan pun datang menghampiri. Pikirku bagaimana saya harus mengkibas jauh kebosanan itu. Nah si ide pun datang, kenapa saya ga pernah mengunjungi Taman Anggrek Indonesia Permai yang notabene jaraknya hanya "setempongan" dari tempat tinggal saya. Posisi TAIP persih di sebelah mall TMII square yang ada di Jakarta Timur.

Pintu Utama TAIP

Peresmian Oleh Pak Soeharto

Dahulu semasa kejayaan pak Soeharto, beberapa tempat wisata di Jakarta Timur di bangun seperti TMII dan juga TAIP yang diprakarsai oleh istrinya yaitu Ibu Tien, beserta salah satu mesjid termegah pada zamannya yaitu mesjid A-Tien. Dulu siapa sih yang ga kenal TAIP dan ingin mengunjunginya karena pesona dari bermacam-macam bunga Anggrek. Tapi pada saat saya kesana, hal itu tidaklah terlihat lagi. Sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang hendak membeli bunga Anggrek. Saya yang memangajak mama saya ke sana seakan-akan yang empunya taman Anggrek itu. Kebetulan kami berdua sejatinya belum pernah kesana sama sekali.













Tiap kebun dimiliki oleh orang-orang yang berbeda dan ditandai oleh pembatas jaring. Tiap kebun itupun di pelihara oleh satu atau paling banyak dua penjaga kebun. Bunga Anggrek yang paling khas dan hampir bisa ditemui di masing-masing kebun itu adalah bunga Anggrek Bulan dengan warna yang bermacam-macam. Sayangnya di tiap pot bunga tidak tertera nama bunganya. Yang saya perhatikan, Anggrek itu mempunyai satu batang dan bisa dihiasi dengan 3 sampai 15 helai kelopak bunga. Jika batang itu sudah habis masa nya maka harus dipotong dan akan tumbuh batang lain selama akar bunga masih hidup. Kata salah satu penjaga, cara merawatnya cukup simple yaitu disiram dua hari sekali, diberi pupuk dan dijaga kebersihannya. Penjaga itupun menawarkan bunga Anggrek dengan harga yang bervariasi tergantung keindahan bunga tersebut, mulai dari 45 ribu sampai 80 ribu rupiah per pot bunga. Bagi penggemar bunga Anggrek pastinya harga itu tidaklah mahal.
Cukup berkeliling dari satu kebun ke kebun lain, dimana-mana isinya bunga Anggrek, rasa penasaran saya pun lenyap sudah berhasil berkunjung ke TAIP. Ayo, bagi yang suka bunga Anggrek silahkan mampir ke sana dan nikmati keindahan berbagai macam bunga Anggrek.


Selasa, 31 Mei 2016

Museum Fatahillah

Siang itu matahari berkilau cerah sekali, sampai-sampai keringat di dahiku bercucuran selepas aku tiba dan memarkirkan motor. Sepintas terlihat berbeda dari kejauhan, keramaian dahulu yang kuingat saat terakhir kali ke tempat itu kini tak ada lagi.
Bersih nyaa
Ada Banyak Tong Sampah Berjajar
Terakhir kali Kesana, Pohon itu Masih Ada
Banyak Rental Sepeda

Wah, ternyata lebih rapih dan WOW tak ada lagi sampah berserakan. Yup, itulah penampakan yang berubah di halaman Museum Fatahillah atau yang biasa dikenal Museum Sejarah Jakarta. Padahal sekitar 2 tahun yang lalu saya mampir kesana, masih bertebaran pedagang kaki lima diseputaran halaman museum plus pengamen yang hilir mudik dan sampah yang tak kunjung habis menghiasi tempat itu. Sekarang tak ada lagi pedagang yang berjualan di batas yang ada, tak ada lagi pengamen yang hilir mudik dan tak ada lagi sampah berserakan. Saya pun melihat ada tong sampah yang di cat hijau tersedia dalam jumlah banyak sehingga memudahkan pelanggan untuk membuang sampah yang mereka hasilkan. Bravo untuk perubahan fasilitas di sana.

Salah Satu Lukisan di Museum Fatahillah (karya : Sudjojono)
Salah Satu Gambar dari Proyektor
Lukisan (Jan Pieterszoon Coen)
Peresmian Museum Oleh Gubernur Ali Sadikin

Museum Fatahillah posisinya ada di Jalan Taman Fatahillah no.1, Jakarta Barat yang lebih terkenal dengan sebutan Kota Tua dan berdiri diatas tanah seluas 1300 meter persegi. Saya sendiri beberapa kali hinggap di halaman seputar museum, nah saat ini adalah kali pertama saya menelusuri Museum Fatahillah. Tiket masuk hanya Rp. 5000,- murah, bukan. Bagian awal langsung terpampang foto Museum sedari dulu beserta penjelasan fungsi awal sebagai balai kota. Lukisan ada di beberapa ruangan, benda-benda antik peninggalan masa penjajahan Belanda pun dipamerkan, ada hastag-nya lho "awas jangan disentuh".

Peralatan Masak Pada Zama Itu
Pedang Eksekusi
Perkakas Pertanian
Mebel Pada Zamannya
Salah Satu Pengunjung Yang Datang
Bahan Dari Keramik

Tiap bagian ruangan museum saya hampiri, seperti merasakan hidup dijaman dahulu, serba klasik tanpa ada teknologi seperti sekarang, itulah asiknya ke museum. Aku jadi bertanya-tanya bagaimana kehidupan dimasa itu, masa penjajahan yang begitu lama dan berjuang untuk kemerdekaan. Imajinasi liar yang ada di otakku seakan menghadirkan bayangan kehidupan di masa itu, saat melihat benda-benda peninggalan. Alat masak, alat perang, mebel, keramik sampai arca tersedia di sana.

Penjara Bawah Tanah Pria
Penjara Bawah Tanah Wanita
Bagian Belakang Museum Fatahillah

Oh ya, dibagian belakang museum ada penjara untuk wanita dan pria. Begitu melihat tempatnya, aku membayangkan penderitaan yang sangat tidak manusiawi pada masa itu. Tempat siksaan bagi para pelanggar ataupun pemberontak pada zaman itu. 
Museum memang tempatnya belajar sejarah, mengenal kehidupan di masa lalu dan mengapresiasikannya. Membayangkan hidup di masa itu menjadi kesenangan tersendiri dan patutnya mensyukuri hidup saat ini.

Tetaplah Berkibar Wahai Bendera Merah Putih


Minggu, 24 April 2016

Tak Ada Papatheo, Sepa pun Jadi

Sudah 6 bulan saya terlepas dari hangatnya pantai dan laut, dan ajakan seorang teman lama untuk nge-trip ke pulau seribu seakan menjadi keceriaan sendiri buat saya. Papatheo adalah tujuan saat itu, saya bergegas mencari referensi tentang pulau itu dan hasil referensi pulau itu adalah pulau pribadi dan tempat yang asik buat kemping.
Pada hari - H kami mesti berkumpul di pelabuhan Kali Adem pukul 06.00 WIB. Saya yang menumpangi kereta menuju stasiun Kota harus terlambat karena kereta harus menunggu antrian parkir kereta di stasiun itu dan waktu sudah menunjukkan jam 7 kurang 15 menit. Sekejap saja saya bernegosiasi dengan pengendara ojek untuk membawa saya ke Kali Adem dengan tempo 10 menit, 30 ribu pun harus saya relakan. Untungnya saya belum ditinggal oleh kawan-kawan yang sudah berkumpul disana.
Kapal penyebrangan mengantar kami menuju pulau Pramuka beserta dengan penumpang-penumpang lainnya, biaya tiket sudah melonjak dari terakhir saya tumpangi sebesar 40 ribu menjadi 52 ribu. 3 jam terombang ambing diatas kapal sebelum tiba di pulau transit itu.

Menikmati Perjalanan Menuju Papatheo

Nisa selaku TS trip langsung mengkontak pemilik kapal yang kami sewa. Pak Wawi selaku captain kapal beserta Pak Rio sebagai ABK menjadi pengantar kami yang setia. Jadi lah kami ber-17 mempercayakan perjalan kepada sang captain, "Kurang lebih 30 menit kita akan sampai di Papatheo", pak Wawi menerangkan. Tak lama memang di bandingkan perjalanan kami 3 jam sebelumnya.
Papatheo Yang Banyak Sampahnya

Tiba di Papatheo, Pak Wawi, Nisa, dan Niken bernegosiasi dengan penjaga pulau itu, ternyata kami tidak diperbolehkan kemping di sana karena pesan dari yang empunya pulau. Tapi saya pun tak terlalu kecewa karena kondisi sekitar pelabuhan yang dihiasi genangan sampah. Selepas pulau itu, Pak Wawi memberikan ide jika pindah ke pulau Sepa, letaknya pun tak begitu jauh hanya 15 menit saja. Ibarat pepatah "Tak Ada Rotan, Akar pun Jadi", begitu pun perjalanan kami "Tak Ada Papatheo, Sepa pun jadi". 
Pulau Sepa
Dermaga Pulau Sepa
Jernih dan Cerah nya Pulau Sepa

Tiba di Pulau Sepa, Pak Wawi ditemani Nisa dan Niken kembali bernegosiasi dengan penjaga pulau, dan kali ini mereka berhasil, yeeeahh. Oh ya, di dermaga Pulau Sepa kondisi nya bersih lho, tak ada sampah yang tergenang plus di hadiri bule--bule yang sepertinya menginap di resort pulau Sepa. Kami bergegas mencari tempat untuk mendirikan tenda, posisi tempat yang kami dapat menghadap ke timur. Tenda jadi, dan makan siang pun selesai, tiba waktu nya untuk kami ber snorkeling ria. Andis, yang tak ingin snorkeling menawarkan dirinya untuk stay di tenda dan menjaga barang-barang kami, dia pun ingin berleyeh-leyeh di pantai, thanks ya Andis udah di jagain barang-barang nya.

Lokasi Kemping
Di Sepa Ada Juga Gubuk tuk Di Sewa
Salah Satu Spot Snorkeling

Berangkat ke spot snorkeling yang pertama, banyak karang tapi ikan-ikan yang berkeliaran tidak terlalu banyak. Di spot yang kedua, terumbu karangnya lebih banyak dan ikan nya pun bergerombolan, membuat kami lebih lama menghabiskan waktu di spot itu. Di spot yang ketiga, hari sudah semakin sore, arus laut pun semakin kuat dan alhasil pemandangan bawah laut di spot itu burem dan terlalu capek melawan arus. Setelah puas snorkeling, kami kembali ke pulau Sepa lokasi berdirinya tenda.
Andis masih asik berleyeh-leyeh di hammock nya ketika kami menghampirinya. Di pinggir pantai banyak bulu babi bersembunyi di bawah air, si Ando punya ide cemerlang. Mengambil satu bulu babi dan ingin mencicipinya mentah-mentah, "rasanya amis seperti telur ada pasirnya", selorohnya. 4 bulu babi lainnya pun memuaskan rasa penasaran kawan-kawan yang lain. Waktunya memasak, untungnya ada chef Andis yang memang terkenal jago dalam urusan yang satu itu. Menu makan di hadirkan sate cumi, ikan bakar aluminium foil dan nasi liwet ala chef andis. Di posisi per-sambel-an ada sambel ulek merah dan dabu-dabu ala Niken. Beuuhh, santapan malam langsung diserbu dengan ganasnya, habis seketika dan tak bersisa. Pertama karena masakannya memang juara dan kedua karena kami kelaparan, haha.

Aktivitas Kemping Lainnya
Santapan Malam
Ludes

Keseruan malam dilanjutkan dengan bermain kartu tepok nyamuk, tak tahu dari mana nama permainan itu, tapi sudahlah mainkan saja. Canda tawa melengkapi malam itu.
Awan menghalangi sinar sang surya yang hendak muncul, ga jadi deh liat sunrise padahal tempat kami sudah sangat mendukung. Persiapan isi perut pagi dan beres-beres tenda melengkapi perpisahan kami di pulau Sepa itu, ya kami harus kembali ke Pulau Pramuka dan menuju Kali Adem. Sebelum ke Pulau Pramuka, kami singgah sebentar di Pulau Perak. Kalau bagi saya ke pulau itu menjadi nostalgia karna sudah 2 kali saya mengunjunginya, dan salah satu pulau di kep.seribu yang asik dijadikan tempat kemping. Saya dan beberapa kawan sempat menyeburkan diri di dermaga Pulau Perak, sementara yang lainya hanya bermain ayunan ditemani gerimis kecil.
Sudah puas bermain di pulau itu kami beranjak dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Pramuka, dan berakhir lah edisi trip kali ini.

Mentari Pagi dan Kami pun Harus Pergi